Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Proses Partus Hewan Ternak Ruminansia



Nama   : Janu Herjanto
Nim      : 12/331833/PT/06287

KELAHIRAN (Partus) PADA HEWAN RUMINANSIA

Kelahiran (partus) adalah proses-proses fisiologik yang berhubungan dengan pengeluaran anak dan placenta dari organisme induk pada akhir masa kebuntingan.  Persiapan untuk partus meliputi perubahan-perubahan yang terkoordinir dalam tubuh induk dan fetusPeristiwa kelahiran pada garis besarnya dapat dibagi menjadi tiga stadium, yaitu :
- Stadium persiapan,  
- Stadium pengeluaran dan,
- Stadium pengeluaran placenta.

1. Stadium persiapan atau permulaan
          Pada stadium ini, terjadi aktivitas dari urat daging, uterus berupa kontraksi. Intensitas serta frekwensiKontraksi urat daging uterus  pada tahap ini diawali dari ujung depan (cranial) cornus uteri, sehingga menyebabkan isi uterus terdorong ke belakang kearah serviks.  Isi uterus yang terdiri dari fetus, cairan, allantois dan amnion serta selaputnya masuk ke dalam serviks yang telah rilek dan akhirnya mudah membuka.
          Secara hormonal, kontraksi ini timbul karena pengaruh jumlah estrogen yang meningkat dan penurunan jumlah progesteroneKontraksi uterus pada tahap permulaan ini terjadi setiap 10 – 15 menit sekali dan berlangsung lebih kurang selama 15 – 30 detik, yang makin lama menjadi lebih sering, lebih kuat, dan lebih lama.  Stadium ini pada ternak sapi dapat dilampaui selama setengah jam sampai dengan satu hari atau 24 jam,  namun rata-rata sekitar    2 – 6 jam.  Stadium ini diakhiri dengan membuka dan meluasnya serviks hingga menyamai luas vagina atau vulva.  Dari vulva dapat dilihat kantong alantois yang menyembul ke luar menyerupai balon atau kantong plastik berisi air.  Pada akhirnya kepala fetus dan kedua kaki depan masuk ke dalam ruang pelvis.
 Gambar 1. Pra Partus

2. Stadium Pengeluaran Fetus
          Pada stadium ini perejanan tidak saja karena adanya kontraksi uterus, tetapi juga dibantu oleh adanya kontraksi urat daging perut dan diafragma.  Stadium ini juga ditandai oleh adanya reptura kantong allantois dan masuknya fetus ke dalam saluran kelahiran, serta diteruskan dengan keluarnya fetus melalui vulva.  Pada saat kedua kaki fetus melewati vulva, kantong amnion pecah.  Pada saat kepala, bahu dan pinggul fetus memasuki ruang pelvis. Perejanan berlangsung terus menerus dan kontraksi abdominal juga semakin meningkat.  Perejanan akan beristirahat sesaat, setelah kepala fetus melewati vulva, dan akan kembali merejan dengan kuat saat dada dan tubuh fetus lainnya melalui jalan kelahiran.
          Proses kelahiran tersebut di atas adalah proses kelahiran normal (etokia) di mana fetus terletak pada kedudukan longitudinal anterior dengan kepala tertumpu pada tulang-tulang metacarpal dan lutut kaki depan lurus.  Selain itu termasuk letak normal juga apabila fetus berada pada kedudukan longitudinal posterior dengan kaki belakang lurus kejalan kelahiran (letak sungsang).  Pada kedua letak tersebut di atas, fetus dapat lahir dengan sendirinya tanpa bantuan.  Sedang posisi lain diluar posisi tersebut di atas, biasanya berakhir dengan kesulitan kelahiran (distokia).

Gambar 2. Proses Kelahiran
          Posisi induk pada saat melahirkan umumnya berbaring, namun tidak jarang pula anak lahir dalam keadaan induk berdiri, terutama pada kerbau.  Stadium pengeluaran fetus ini dapat berlangsung singkat dan dapat juga berlangsung lama, tergantung dari kesehatan induk, kesehatan fetus dan juga sudah berapa kali si induk beranak.  Pada ternak yang sering beranak, umumnya proses kelahiran akan berlagsung lebih cepat dibandingkan dengan induk ternak yang baru pertama kali beranak.
          Tali pusar atau chorda umbilicalis akan putus dengan sendirinya, dan apabila tali pusar ini terlampau panjang dikhawatirkan dapat terinjak oleh si anak.  Untuk itu, tali pusar dapat digunting dengan gunting yang tajam dan steril, sisakan lebih kurang 10 Cm kearah perut.  Bekas luka potongan diolesi dengan yodium tincture atau antiseptic lainnya untuk mencegah terjadinya infeksi.  Tali pusar ini akan mongering dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih 2 – 3 minggu kemudian.
Gambar 3. Induk sapi menjilati anak sapi
3. Stadium Pengeluaran Placenta
          Merupakan stadium terakhir dari proses kelahiran, yaitu berupa proses pengeluaran selaput fetus (flacenta) dan kembalinya uterus seperti semula (inolusi uterus) .  Setelah stadium kedua atau proses pengeluaran fetus selesai, uterus masih tetap kontraksi, hal ini berguna dalam membantu proses pengeluaran selaput fetus (flacenta).  Proses ini berlangsung beberapa jam setelah kelahiran, yaitu antara 3 – 8 jam.  Apabila lebih dari waktu tersebut selaput tidak juga keluar, maka hal ini dianggap patologik dan terjadilah retention secundinae (selaput fetus tertahan didalam uterus).  Kontraksi uterus yang masih berlangsung, berfungsi untuk melepaskan placenta anak dari pertautannya dengan endometrium, dan volume uterus pun  berangsur-angsur mengecil.  Vili-vili placenta terlepas dan placenta terdorong kearah serviks.
          Placenta dan sisa tali pusar terlihat menggantung di mulut vulva karena beratnya, turut berperan dalam proses pengeluaran placenta.  Kecuali hal-hal tersebut di atas, peranan hormon estrogen dan oxitocin juga cukup memegang peranan yang penting.  Kedua hormon tersebut mempengaruhi uterus untuk tetap berkontraksi selama proses pengeluaran placenta.  Kesehatan induk sangat berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan untuk proses pengeluaran placenta.  Demikian pula sistem pemeliharaan ternak pada waktu buntingnya.  Ternak yang sering dilepas dan bebas bergerak di padang penggembalaan, proses pengeluaran placentanya semakin singkat.  Sedangkan sapi yang sepanjang tahun selalu dikandangkan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dalam proses pengeluaran placentanya.  Tahap akhir dari proses pengeluaran placenta, serviks akan mengeluarkan/ mensekresikan suatu lender yang kental dan lengket yang berfungsi menutup serviks agar terhindar dari masuknya kuman ke dalam uterus.

Gambar 4. Pengeluaran Plasenta
INVOLUTIO UTERUS
          Involutio Uterus adalah kembalinya uterus ke dalam semula, setelah induk ternak melahirkan.  Kejadian yang dialami uterus setelah proses kelahiran anak beserta pengeluaran placentanya adalah proses regenerasi endostrium, hingga pada suatu saat induk akan segera birahi kembali setelah partus.
          Setelah placenta terlepas ke luar, kripta-kripta pada karunkula menjadi semakin dangkal, dan sisa vili placenta anak terlepas dan bercampur serum., cairan limfe dan reruntuhan epitel endometrium yang terdapat di dalam uterus.  Pada saat ini, uterus masih tetap berkontraksi walaupun tidak sekuat dan secepat saat placenta masih ada.  Kontraksi ini menyebabkan cairan yang ada di dalam lumen uterus keluar.
          Satu minggu setelah placenta keluar, karunkula hanya berupa jendolan-jendolan tanpa tangkai yang pada minggu ke empat ukurannya mengecil sebesar karunkula aslinya, yaitu karunkula uterus yang tidak bunting.  Beberapa peneliti memberikan perkiraan berdasarkan pengamatannya, bahwa proses involution uteri berlangsung sekitar 45 – 50 hari dan sapi atau induk ternak dapat dikawinkan kembali sekitar 60 hari setelah melahirkan.

Post a Comment for "Proses Partus Hewan Ternak Ruminansia"